Loading...

Sabtu, 19 Januari 2013

Ada setan (?)




"Bu, Arina kerasukan lagi. Dari tadi dia nangis keras jerit-jerit." Suara Mbok Minah yang terdengar dari gagang telepon mengagetkan Ranti.

"Hah? Sejak kapan?" Tanya Ranti.

"Dari tadi, Bu. Sekitar setengah jam yang lalu. Aduh… saya bingung, Bu. Saya gak tahu harus gimana lagi. Setannya gak mau keluar keluar."

"Udah panggil Pak Risman?"

"Eri udah kerumahnya, Bu. Tapi Pak Risman lagi gak ada di rumah."

"Saya segera pulang, Mbok." Ranti menyudahi percakapan.

Setelah me-lock komputernya, Ranti segera berdiri dan merapikan tas. Semua pasang mata yang ada di ruangan itu mengarah padanya. Ranti merasa tidak enak. Sejak Arina anaknya sering kerasukan, Ranti sudah beberapa kali izin pulang atau izin keluar sebentar. Rumah Ranti memang dekat dari kantor. Tapi tetap saja ada waktu yang tersita untuk urusan pribadinya.

"Izin lagi, Ran?" Tanya atasannya yang posisinya berada di kubikel di depan Ranti duduk.

"Iya Pak. Arina kerasukan lagi. Saya sebentar saja kok."

"Laporan pelanggan yang…"

"Sembilan puluh persen selesai Pak. Kalau tidak selesai sore ini, saya bersedia lembur kok. Permisi, Pak!" Ranti memotong pertanyaan atasannya. Kemudian tanpa mempedulikan izin atasannya, atau apakah masih ada yang ingin disampaikan oleh atasannya, Ranti bergegas meninggalkan ruangan menuju lantai basemen, tempat mobilnya diparkir.

*****

Sebuah mobil sedan coklat keluaran tahun 2008 meraung memasuki halaman rumah yang terletak di barisan depan komplek Perumahan Cikolong Indah. Sejenak setelah mobil itu berhenti, sebuah wanita berumur 35-an keluar dari pintu kanan depan. "Sudah telpon Haji Busthoni, mbok?" Tanya Ranti, wanita tersebut pada seorang wanita paruh baya yang sedang mendorong pagar halaman rumah, menutupnya hingga rapat.

"Sudah Bu. Tapi Pak ustadz malah bilang gak sanggup."

"Aduh gimana ini ya?" Ranti cemas bukan kepalang. Sekalipun kejadian ini bukan sekali ini terjadi.

"Gimana Bu, apa panggil Pak Peter, tetangga samping rumah?"

Ranti menggaruk dagunya. Ragu.

"Pak Peter sudah dua kali bilang sama saya, kalo dia bisa bantu menyembuhkan Arina." Sambung Mbok Minah.

"Ya sudah. Dia ada di rumah?"

"Mudah-mudahan ada, Bu. Saya tengok dulu."

Kemudian Mbok Minah membuka kembali pagar rumah yang baru saja ditutupnya, berjalan beberapa langkah, dan sesaat kemudian terdengar pintu pagar rumah tetangga diketuk.

Ranti berjalan memasuki rumah. Di ruang tengah, ada Eri, kakaknya Arina sedang menemani Arina yang tengah berteriak. Muka dan mata Arina terlihat merah. Dia berbaring di lantai. Tangannya sebentar-sebentar mengepal lalu membuka lagi.

Sudah tiga orang yang dimintai tolong untuk mengobati Arina, tapi semuanya gagal. Saat pertama kali Arina kerasukan setelah pulang sekolah, Mbok Minah dengan inisiatif sendiri menghubungi Pak Risman, satpam kompleks yang rumahnya di balik tembok kompleks perumahan. Pak Risman orang yang ramah dan supel. Seluruh penghuni perumahan Cikolong Indah mengenal Pak Risman. Selain itu, Pak Risman pun dikenal taat beribadah.

Saat itu Pak Risman dengan sigap menghampiri Arina. Dia membacakan beberapa ayat suci Al-Qur’an yang dihafalnya. Ada perlawanan sengit dari setan yang ada di dalam tubuh Arina. Tapi nampaknya setan itu lebih kuat. Bahkan rupanya ada lebih dari satu makhluk halus yang menggerayangi tubuh Arina. Pada akhirnya, setan-setan itu mau keluar setelah Ranti dan Mbok Minah terpaksa mengabuli permintaan mereka: memotong ayam hitam. Mbok Minah harus belanja ke pasar mencari ayam hitam untuk mengabulkan permintaan para setan.

Orang kedua adalah Pak Dadi, teman Pak Risman. Seorang satpam juga, tapi bertugas di kompleks perumahan lain. Pak Dadi diminta atas rekomendasi Pak Risman. Dua hari setelah kerasukan, Arina kembali dikerjai oleh setan. Ketika Mbok Minah meminta pertolongan Pak Risman, segera saja Pak Risman mengajak mbok Minah menemui Pak Dadi. Dan beberapa saat kemudian Pak Dadi yang lulusan pesantren di Sukabumi itu bertarung dengan sengit melawan para setan yang ada di tubuh Arina.

Berhasil. Saat itu setan-setan berhasil pergi. Dan Pak Dadi selanjutnya menjadi andalan keluarga Ibu Ranti untuk menghadapi setan-setan yang mengganggu Arina. Setiap kali Arina kerasukan, Pak Dadi dimintai pertolongan. Sampai-sampai salah satu setan yang masuk ketubuh Arina berkata, “Kamu orang yang alim, Dadi. Kamu orang yang jujur, hafal Al-Qur’an. Kami susah menang melawan kamu.”

Celakanya, setelah dipuji begitu, Pak Dadi dirasuki sifat sombong. Hingga akhirnya Pak Dadi tak pernah lagi bisa mengusir setan yang merasuki tubuh Arina. Para setan itu menjadi kebal dari bacaan Al-Qur’an Pak Dadi. Jalan keluarnya kalau sudah begitu adalah mengikuti permintaan para setan yang aneh-aneh.

Orang ketiga adalah Haji Busthomi. Beliau ‘orang pintar’. Dapat rekomendasi dari teman kantor ibu Rina. Tapi sayang, pertarungan perdana Haji Busthomi mengecewakan. Dia kalah telak. Tak mampu mengusir jin yang bersarang di tubuh Arina.

Hingga suatu hari Pak Peter menawarkan bantuannya pada mbok Minah. Pak Peter tahu ada masalah di rumah Ibu Ranti dari pembantunya, Teh Yanti. Curhatan Mbok Minah disampaikan oleh Teh Yanti kepada Pak Peter. Dan Pak Peter pun menawarkan jasanya mengobati Arina.

Mulanya tidak ditanggapi oleh ibu Ranti. Dia malu aibnya diketahui tetangga. Tapi pada akhirnya, hari ini terpaksa ibu Ranti meminta pertolongan pada Pak Peter.

*****

Pak Peter ada di rumah. Sesaat setelah berkunjung ke rumah tetangga, Mbok Minah mengawal Pak Peter memasuki rumah Ranti. Melihat Pak Peter, Ranti menyapa, “Aduh Pak, syukurlah bapak ada di rumah. Ini anak saya dari tadi gak sadar. Dia meraung-raung gak jelas.”

“Ya… ya… Bu.” Sahut Pak Peter.

“Kata Mbok Minah, Pak Peter bisa mengobati Arina?”

“Ya bisa Bu. Saya ada kenalan yang bisa mengobati Arina. Boleh pinjam teleponnya Bu, untuk menghubungi kenalan saya?”

“Ya silakan Pak.”

Pak Peter menggapai gagang telepon rumah yang terletak di atas sebuah meja yang ditempatkan berdempet dengan dinding rumah. Kemudian ia memencet beberapa nomor. Setelah tersambung, Pak Peter terdengar berbicara serius dengan seseorang di luar sana. Semenit kemudian Pak Peter menutup gagang telepon menyudahi pembicaraan.

“Kira-kira lima menit lagi teman saya datang, Bu. Ada tiga orang. Mereka dari…” Pak Peter menyebutkan sebuah tempat ibadah.

“Oh, iya Pak. Mudah-mudahan lancar perjalanannya.”

“Kita berdoa saja Bu.”

Pak Peter beragama berbeda dengan Ibu Ranti yang muslim. Pak Peter pun dikenal orang yang taat dengan agamanya. Rutin ia mengunjungi tempat ibadah.

Setelah lima menit lebih berlalu, datanglah tiga orang teman Pak Peter berpenampilan seperti pemuka agama. Pak Peter menghampiri mereka dan kemudian terlibat perbincangan. Lalu ketiga orang itu bersama Pak Peter menghampiri Arina yang tergeletak. Mereka menempelkan tangannya di atas perut Arina, dan serempak berkata, “Atas perlindungan Tuhan, wahai roh yang tidak berhak ada dalam tubuh ini, keluarlah!!!”

Ajaib, Arina segera sadar. Sesaat lalu Arina masih bengong melihat keadaan sekelilingnya. Tubuh dan mukanya basah dibanjiri keringat. Mbok Minah segera memberi minuman segelas air putih pada Arina.

*****

“Terima kasih, bapak-bapak atas bantuannya. Saya tidak menyangka, cepat sekali Arina sadar. Kalau tahu begitu, dari kemarin saya sudah mengontak bapak-bapak semua.” Ujar Ranti menemani Pak Peter dan kawan-kawannya yang hendak pamitan.

“Atas izin Tuhan, Bu. Sepertinya Arina belum sembuh betul. Setan-setan itu kemungkinan besar kembali. Tapi kalau itu terjadi lagi, lekas kontak kami ya.” Ujar salah seorang dari mereka.

“Baik Pak.” Ibu Ranti tersenyum.

“Baiklah, kami pamit dulu.”

“Ya Pak. Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan.”

*****

Di tengah ruangan itu ada sebuah boneka jelangkung bertopi jerami berdiri dengan di tangannya diselipkan sebuah kapur. Mepet ke dinding di salah satu sisi ruangan, ada papan tulis berukuran satu kali setengah meter.

Boneka jelangkung itu pernah menjadi alat komunikasi. Tapi itu dulu. Kini sejak ada komputer dengan spesifikasi yang agak tinggi yang diparkir di salah satu sudut ruangan, boneka itu tak lagi terpakai. Komputer itu menggantikan peran boneka jelangkung.

Di depan layar komputer, ada Pak Peter yang sedang serius mengetik. Dia didampingi oleh tiga orang temannya yang baru saja menolong Arina dari kesurupan setan.

“Terima kasih mbah Narjo. Misi kita kali ini sukses.” Begitu yang terpampang di layar, hasil ketikan pak Peter.

Kemudian ajaib, ada tulisan muncul sendiri di layar monitor tanpa diketik oleh Pak Peter, atau pun salah seorang dari temannya. Dan komputer itu pun tidak terhubung dengan internet atau jaringan mana pun. Tulisan itu hadir sendiri. “Ya bagus. Akhirnya misi kita berhasil. Saya sempat takut si Ranti menghubungi lagi si Dadi. Kekuatan Dadi sudah pulih. Dia tak lagi terlihat keras kepala. Bahaya kalau dia yang melawan kita, bisa-bisa kita para setan terbakar lagi.”

“Ya Mbah Narjo, saya berhasil meyakini Mbok Minah.” Ketik Pak Peter. “Masih ada beberapa tahap lagi, Mbah. Ingat, misi kita adalah mengubah agama keluarga Ibu Ranti mengikuti agama kita.”

“Siap! Dua hari lagi saya akan menyerang Arina kembali. Kawan-kawan siap?” Sebuah tulisan secara ghaib muncul.

“Siap Mbah.”

Akhwat harus Kuat




Islamedia - Bismillahir-Rah maanir-Rahim ... Akhwat, sebutan ini biasanya diberikan buat wanita sholeha yang identik dengan kerudung raksasa dan jilbab longgarnya. Akhwat juga sangat menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan agama. Saat ketemu dengan saudari seiman, senyum dan salam selalu menghiasi wajah dan lisannya. Diapun juga senantiasa menjaga pandangan dari laki- laki bukan mahram. Dan yang paling dikenal dari sosoknya adalah rasa malu, yang membuatnya semakin terlihat cantik.
Seorang akhwat juga seringkali diidentikan dengan kelembutan. Tapi lembut bukan berarti lemah dan cengeng. Tapi... gimana dunk dengan fenomena yang ada sekarang ini, dimana beberapa akhwat yang rajin banget update status di dunia maya tentang curahan hati mereka?Bahasa yang mereka pakai juga romantis mendayu- dayu, atau trenyuh sekalian, yang intinya dipasang untuk mewakili hatinya yang lagi galau. Padahal kalau jaman dulu buku diari tuh disimpan dan di jaga banget biar orang nggak tau, tapi sekarang makin banyak diumbar biar semua orang ngerti. Nggak tahu tujuannya biar membuat orang iba sama dia atau justru menarik simpati (khususnya para ikhwan).
Sayang banget ya, padahal kalo situasi hati udah nggak enak, nulis status yg bikin nelangsa malah bakal nambah sedih suasana. Udah gitu belum tentu masalah bakal keluar dan nemuin jalan keluar, ya nggak?. Mungkin kalo kita ambil jalan pintas dengan curhat langsung aja sama Allah, pasti akan lebih adem dan damai di hati.
Selain itu, seorang akhwat juga identik dengan gampang nangis dan ngerasa iba dari pada laki-laki. Menangis sih boleh- boleh aja, manusiawi banget kok. tapi kalau dijadikan kebiasaan itu menandakan orangnya mudah rapuh alias cengeng. Seorang akhwat harus bisa belajar menyikapi sesuatu secara dewasa. Kenapa? karena merekalah yang dekat dengan dunia dakwah yang tentunya akan berhadapan dengan 1001 karakter manusia, lengkap dengan pernak pernik kesulitan dan keunikannya. Kalau hati nggak luas, dewasa, dan mudah rapuh, wah bisa- bisa dakwah berhenti di tengah jalan.
Jadi akhwat kudu kuat
Kita semua adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk mengesakanNya. Atau dengan kata lain menegakkan Kalimat Laailaha Ilallah di dunia ini. Dan ini bukan perkara simple. Rasulullah dulu berdakwah hingga giginya patah, dilempari batu, di caci maki, dibilang orang gila, diteror, diancam mau di bunuh, dll. Bener- bener deh, jalan dakwah memang sangat berat dan nggak hanya sebatas teori, atau sekedar kata ‘Jadilah..!’ maka akan terjadi. Yang ada ‘jadilah!’ lalu kita harus bergerak untuk menjadikannya, dan baru hal itu akan jadi kenyataan.
So, buat kamu para akhwat, Selamat datang di dunia dakwah.… dan kamu kudu kuat.
Jadilah yang terkuat dalam kesabaran seperti Sumayyah binti Khayyat yang walaupun disiksa dan di buang ke padang pasir yang sangat panas dan menyengat, serta diletakkan di atas dadanya sebongkah batu yg berat agar dia keluar dari din, tapi dia tidak meratap, dan tetap mengucapkan, Ahad.. Ahad..
Jadilah sekuat Nusaibah binti Ka'ab yang tidak menangis walau tangannya terpotong, demi membela Rasulullah SAW di perang Uhud. Atau setangguh the Black Rider, si penunggang kuda berbaju hitam, Khaulah binti Azur yang membuat Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat ketangkasannya memacu kuda ke tengah-tengah medan tempur.
Jadilah sekuat Rumaisa binti Marhan atau Ummu sulaim yang tegas menolak lelaki kafir yang ingin menikahinya, walaupun dia sangat kaya.
Jadilah sekuat dan seikhlas siti Hajar yang rela dan tetap kuat saat ditinggal Nabi Ibrahim 'Alaihissalam di padang pasir yang tandus dan gersang bersama putranya,

Kisah Dari Gaza




- SUARA dentuman dahsyat itu terjadi hampir setiap 10 menit. Ia panik luar biasa berlari mencari tempat berlindung. Sementara ledakan demi ledakan yang memekakkan telinga dan menggetarkan jantung terus terjadi, ia justru melihat darah bersimbah tumpah di jalan-jalan. Rentetan bunyi senjata bersahutan di antara dentuman yang tak juga berhenti. Ia berusaha menenangkan diri, bahwa keadaan dirinya akan selamat, dan ia akan baik baik saja. Do’a di antara ketakutan tak putus diucapkan, meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar diselamatkan dari ancaman kematian yang sedang mengancam.
Itu sepintas kengerian  yang terjadi di tanah Gaza, Palestina. Peristiwa itulah yang dialami penduduk Muslim Gaza saat melewati hari-hari pembantaian oleh pasukan Zionis Israel yang tanpa ampun menggempur mereka melalui udara dan darat. Ungkapan itu disampaikan oleh seorang pria bernama Abu Hani, salah seorang tim medis di Palestina yang kebetulan selamat dari lubang kematian di Gaza ketika itu. Ia kemudian menuturkan banyak hal tentang pengalamannya yang sulit dilupakan, saat harus berada di antara dentuman roket dan suara peluru senjata. Abu Hani, adalah petugas medis, ia juga menjadi target pembunuhan keji pasukan Israel , seperti juga dialami rekan-rekannya sesama tim medis di Gaza. “Saya meminta kepada Allah agar Anda tidak pernah mengalami apa yang saya alami dalam penderitaan dan krisis seperti ini. Apa yang kami alami seperti tidak bisa diterima oleh akal. Tapi insya Allah krisis ini akan berakhir nantinya. Saya tidak ingin ada orang yang mengalami apa yang saya rasakan. Saya minta kepada Allah agar kalian tidak bersama kami. Kami akan menang di negeri ini dan juga di seluruh Negara umat Islam.” Itu perkataan Abu Hani saat seorang wartawan mendekatinya dan berupaya mengutip kisahnya saat melewati fase operasi militer Israel yang tak berprikemanusiaan di Gaza.
Abu Hani menceritakan kejadian dalam dua puluh empat jam yang sangat menegangkan itu. Ia bercerita, “Saya diminta untuk dating ke rumah saudara syahid Thalat. Saya sampai di rumah itu, dan saya melihat jenazah Thalat berada di atas atap rumah sejak ia gugur. Hampir seluruh tubuhnya berwarna merah darah yang sudah nyaris hampir kering. Jenazahnya memang hampir sulit diturunkan. Tak satupun orang, termasuk keluarganya, berani menuruninya karena bisa saja hal itu memancing kedatangan pasukan udara Israel yang siap membombardir mereka kembali. Menurut sebagian keluarganya yang masih hidup, Thalat sempat bertahan hidup selama sekitar 15 jam setelah ledakan roket menghancurkan rumah dan melempar tubuhnya ke atas.
Yang mengharukan adalah, saat jenazah Thal’at berhasil diturunkan. Orang tua Thal’at berkata, “Biarkan aku melakukan perpisahan dengan anakku.” Orang-orang mengira ia akan menangis dan berteriak sedih saat mendekati putranya. Tapi ternyata tidak. Orang tua Thal’at, justru mendekat dan memandang anaknya sambil mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah. Kita akan berjumpa di surga dengan izin Allah. Insya Allah anakku, Allah akan memudahkanmu.. “ Tak lama kemudian ibunda dari Thal’at juga datang dan mengatakan, “Anakku… Engkau meminta surga. Insya Allah kita akan bertemu di sana . Allah akan memudahkanmu.. “ Itulah sepenggal cerita tentang keluarga seorang pemuda Thal’at.
Abu Hani lebih lanjut bercerita tentang pemandangan yang begitu menyakitkan. “Saya menyaksikan lima orang anak-anak dari satu keluarga yang seluruhnya akhirnya meninggal akibat roket Israel yang menghantam rumah mereka. Di antara anak-anak itu, ada yang terpotong tangannya, kakinya. Sebelum syahid menjemputnya, anak-anak itu bergumam,”… syahiid.. syahiid…” Hingga akhirnya mereka menghembuskan nafasnya yang terakhir di depan mata Abu Hani yang ingin mengobatinya. Abu Hani juga bercerita tentang pengalamannya yang lain. Ia mengatakan, “Saya dipanggil untuk menolong anggota keluarga dari sebuah rumah milik Abu Jarhum. Saat aku memasuki rumah itu, ada empat orang anak perempuan kecil-kecil. Yang paling besar belum lebih dari lima tahun usianya. Mereka semua dalam kondisi luka parah. Saya membawa mereka semuanya ke rumah sakit. Alhamdulillah kini kondisi mereka sudah membaik. Abu Hani tampak berat mengungkapkan kepedihan ini dan mengatakan, “Apa yang akan anda lakukan bila Anda melihat dua orang kakak beradik yang terkena roket saat sedang membuat roti. Saat meninggal, salah satu dari keduanya sedang dalam posisi ingin meletakkan tepung untuk dimasukkan ke dalam tungku.
Abu Hani terus melanjutkan kisah-kisahnya yang mendebarkan sekaligus seperti mengiris-iris hati dengan sembilu. Ia mengatakan, “Aku berangkat untuk menolong seorang perempuan. Awalnya, perempuan itu berdiri di dekat jendela. Tapi tiba-tiba sebuah roket jatuh dan menyebabkan kaki saudara laki-lakinya terputus. Sementara ia sendiri mengalami luka parah karena roket itu. Sebelum akhirnya meninggal, ia mungkin merasa saya ada di lokasi itu dan siap untuk menolongnya. Ia mengumpulkan segenap tenaganya yang tersisa dan berusaha memperbaiki kerudungnya yang agak tersingkap. Matanya, menatap lirih ke ibundanya yang juga mendampingi saya saat itu, seolah meminta agar auratnya tetap terjaga dan tidak terlihat olehku… “
Abu Hani melanjutkan bagaimana aktifitasnya sebagai tenaga medis mendatangi berbagai perkampungan di Gaza, termasuk Jabaliya. Di tempat itu ia bertemu dengan seorang pemuda yang gugur, bernama Izzuddin. Pemuda itu semula sedang duduk beristirahat di bawah pohon saat roket Israel menghantamnya, hingga tubuhnya terbelah dua. Tapi saat menjelang meninggal, ia sempat mengangkat telunjuknya dan mengucapkan syahadat “asyhadu anllaa ilaaha illa Llah.. “  Kisah lainnya juga disampaikan Abu Hani saat ia membawa seorang pemuda bernama Muhammad ke rumah sakit. Tubuh Muhammad nyaris penuh oleh luka. Ada sekitar 50 luka sobekan parah di jasad Muhammad yang harus segera diobati. “Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak kecuali jantungnya yang masih berdegup dan mulutnya yang terus menerus berdzikir kepada Allah. Para dokter yang ingin menolongnya sangat kagum dengan kondisi Muhammad. Tapi setelah dua jam dirawat, Muhammad tak tertolong lagi. Di penghujung nafasnya ia melafazkan dua kalimat syahadat dan membaca surat Al fatihah, lalu kemudian meninggal.
Ini sebagian kecil dari pemandangan luar biasa yang terjadi di Gaza, saat Israel menghantam wilayah itu selama hampir satu pekan. Kecaman demi kecaman memang muncul dari sejumlah negara. Tapi lagi-lagi, tak satupun yang kemudian bisa berbuat lebih banyak untuk menindak kekejaman Israel yang tak terperi itu. Allah swt pasti menyertaimu, wahai penduduk Gaza yang terzalimi.(islampos)

Perbedaan Konstitusi Lama dengan Baru




 -
 Konstitusi Mesir yang baru, disetujui oleh pemilih dalam referendum dua tahap bulan ini, menggantikan Piagam 1971 yang dibekukan tahun lalu setelah protes meluas yang menumbangkan kekuasaan panjang presiden Hosni Mubarak.
Voaindonesia menuturkan kesamaan dan perbedaan antara kedua dokumen tersebut dalam beberapa isu kunci:
Peran Islam
Kedua konstitusi menetapkan Islam sebagai agama resmi di Mesir dan Hukum Islam, atau syariah, sebagai sumber utama legislasi. Keduanya juga mewajibkan negara untuk “mempertahankan” nilai keluarga tradisional yang berdasarkan Islam.
Namun konstitusi 2012 untuk pertama kalinya mendefiniskan syariah. Dokumen tersebut menetapkan prinsip-prinsip syariah termasuk “bukti, peraturan, yurisprudensi dan sumber-sumber” yang diterima oleh Islam Sunni, sekte Islam mayoritas di Mesir.
Dokumen baru juga memberikan wewenang yang belum pernah ada sebelumnya kepada Al-Azhar, sekolah agama paling dihormati dalam kelompok Islam Sunni, dengan menyatakan bahwa semua hal berkaitan syariah harus dikonsultasikan pada para akademi di sekolah tersebut. Piagam 1971 tidak menyebut-nyebut Al-Azhar.
Hak Asasi Manusia
Kedua dokumen menyatakan bahwa tahanan tidak boleh menjadi target “bahaya fisik maupun moral” dan negara harus menjaga kehormatan diri mereka.
Dalam hal perlindungan hak asasi yang baru, konstitusi 2012 melarang semua bentuk eksploitasi manusia dan perdagangan seks.
Hak Perempuan
Kedua dokumen meminta negara membantu perempuan dalam biaya mengasuh anak dan menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan. Namun dokumen-dokumen ini berbeda dalam hal persamaan antara laki-laki dan perempuan.
Pembukaan konstitusi 2012 menyatakan bahwa Mesir menaati prinsip persamaan “untuk semua warga negara, perempuan dan laki-laki, tanpa diskriminasi atau nepotisme atau perlakuan yang memihak, baik dalam hal hak maupun kewajiban.”
Bagian utama dokumen baru juga mengandung dua pasal yang melarang negara melanggar hak dan kesempatan yang sama bagi warga negara. Namun kedua pasal tersebut tidak secara eksplisit melarang diskriminasi terhadap perempuan.
Konstitusi 1971 menyertakan satu pasal yang mewajibkan negara untuk memperlakukan perempuan dan laki-laki secara sama dalam “ranah politik, sosial, budaya dan ekonomi,” selama perlakuan tersebut tidak melanggar syariah.
Satu pasal lain secara eksplisit melarang diskriminasi gender.
Kebebasan Ekspresi
Kedua piagam menjamin kebebasan mengeluarkan pendapat secara verbal, tulisan atau gambar, dan kebebasan pers untuk memiliki organisasi berita dan menerbitkan berita secara independen.
Dokumen 2012 melakukan perubahan besar dengan menjamin kemerdekaan berkeyakinan untuk “agama monoteis/samawi” – sebuah referensi untuk Islam, Kristiani dan Yudaisme.
Konstitusi tersebut menyatakan bahwa pengikut agama-agama tersebut memiliki hak untuk melaksanakan ritual keagamaan dan mendirikan tempat ibadah “sesuai aturan hukum.” Undang-undang dasar terdahulu tidak menyebutkan hak-hak agama selain Islam.
Dalam perbedaan lainnya, dokumen yang baru tersebut mencakup larangan terhadap “penghinaan” terhadap nabi-nabi dalam Islam.
Wewenang Presiden
Kedua konstitusi menetapkan presiden sebagai komandan militer tertinggi dan kepala Dewan Pertahanan Nasional, lembaga yang beranggotakan enam menteri Kabinet sipil dan enam pejabat tinggi militer.
Dokumen-dokumen tersebut juga mengatakan bahwa presiden hanya dapat menyatakan perang atas persetujuan parlemen.
Beberapa batasan untuk otoritas presiden ditambahkan pada piagam 2012. Dokumen ini mengurangi masa jabatan presiden dari enam tahun menjadi empat tahun, dan presiden hanya dapat dipilih kembali satu kali, tidak terbatas seperti dalam era Mubarak.
Kandidat perdana menteri yang dicalonkan presiden juga harus disetujui parlemen sebelum diangkat. Sebelumnya, presiden memiliki hak untuk menunjuk atau memecat perdana menteri tanpa veto parlemen.
Piagam 2012 juga mewajibkan presiden untuk berkonsultasi dengan Dewan Pertahanan Nasional sebelum menyatakan perang.
Dokumen ini sama sekali tidak menyebut wakil presiden. Mantan presiden Mubarak memiliki hak untuk mengisi pos tersebut sesuai dokumen 1971, namun ia hanya melakukannya pada hari-hari akhir kekuasaannya.
Kekuasaan Militer
Konstitusi yang baru secara signifikan memperkuat otoritas pasukan bersenjata Mesir. Dokumen itu menyatakan bahwa presiden harus memilih menteri pertahanan dari pejabat tinggi militer. Pilihan tersebut tidak dibatasi sebelumnya.
Di bawah piagam yang baru, kekuasaan untuk menetapkan anggaran pasukan bersenjata dijamin oleh Dewan Pertahanan Nasional, setengah dari anggotanya adalah pejabat militer.
Pejabat senior militer juga mendapat kekuasaan lebih tinggi untuk menyeret warga sipil ke pengadilan militer, namun hanya dalam kasus-kasus kejahatan yang dianggap “membahayakan pasukan bersenjata.”
Selain itu, dokumen 2012 juga menciptakan Dewan Keamanan Nasional yang beranggotakan pejabat senior militer dan menteri Kabinet yang sipil dengan jumlah berimbang.
Dewan tersebut diberikan tugas untuk mengadopsi strategi-strategi keamanan, mengidentifikasi ancaman keamanan dan mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman-ancaman tersebut. [voaindonesia]

Senin, 24 Desember 2012

Khalwat Sebagai Problem Sosial Syariat



Khalwat Sebagai Problem Sosial Syariat

            Di antara adab yang penting untuk diperhatikan dalam hubungan antara pria dan wanita, khususnya bagi yang tidak memiliki hubungan mahram antara keduanya, adalah menghindari khalwat.
Apakah khalwat itu? Khalwat (khalwah)  dalam bahasa Arab berarti berdua di suatu tempat dimana tidak ada orang lain. Maksud dari tidak adanya orang lain dalam hal ini mencakup: (1) tidak ada orang lain sama sekali; atau (2) ada orang lain dan keberadaan keduanya kelihatan tetapi pembicaraan antara keduanya tidak dapat didengar oleh orang itu. Inilah makna khalwat secara bahasa. Menurut al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqh Kuwait), makna bahasa sebagaimana dipaparkan di atas semakna dengan terminologi khalwat menurut ahli-ahli fiqh Islam. Dengan kata lain tidak ada perbedaan untuk kata khalwat antara makna bahasa dan makna istilah syar’i.
Lebih lanjut Syekh Abdullah al-Bassam menyebut dua bentuk khalwat. Pertama, mughallazhah (berat), ialah berduanya seorang pria dan wanita di suatu tempat yang mana keduanya tidak dilihat oleh orang lain. Kedua, mukhaffafah (ringan), yaitu berduanya seorang pria dan wanita di tengah-tengah manusia sehingga keduanya kelihatan namun percakapan antara keduanya tidak dapat didengar oleh orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang khalwat. Sabda beliau: “Janganlah sekali-kali seorang pria berduaan dengan seorang wanita, karena yang ketiganya adalah syetan.” (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih) Tidak bisa dipungkiri bahwa berduanya seorang pria dengan wanita yang bukan mahramnya sangat potensial membuka peluang terjadinya fitnah. Kendati boleh jadi keduanya tidak memiliki niat jahat. Oleh sebab itu, hadits di atas dengan tegas melarang perbuatan tersebut.
Dengan merujuk kepada makna khalwat di atas maka banyak fenomena khalwat yang dapat dikemukakan. Terutama khalwat yang umumnya kurang diperhatikan oleh masyarakat kita. Contohnya adalah berduanya seorang pria dengan wanita di atas kendaraan. Walaupun pria tersebut sedang mengemudikan mobil, misalnya. Keberadaan keduanya di atas mobil memang kelihatan oleh orang lain. Tetapi pembicaraan antara keduanya tidak didengar oleh siapapun.
Termasuk dalam kategori perbuatan khlawat adalah “khalwat profesi”.  Yaitu khalwat yang terjadi karena “tuntutan” profesi. Konsultan, dokter, perawat, adalah sebagian contoh. Profesi-profesi ini rentan untuk bisa berdua dengan klien atau pasiennya.
Tidak terkecuali pula, dalam konteks khalwat ini, yang kerap terjadi dalam sebagian masyarakat adalah khalwat dalam pergaulan dengan kerabat dekat yang bukan mahram. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah kalian masuk ke (ruang) wanita.” Seorang lelaki Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kerabat suami?” Beliau menjawab: “Kerabat suami itu (laksana) maut.” (HR. Bukhari) Dalam hadits ini, Rasulullah menyebut kerabat suami sebagai maut karena dapat menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak dikehendaki. Apalagi jika mengingat kedudukan keluarga suami yang demikian dekat sehingga jarang menimbulkan kecurigaan dan luput dari perhatian. 
Sebagai solusi untuk keluar dari problem khalwat ini adalah dengan bersama dengan pria atau wanita lain. Demikian menurut Imam Abu Hanifah. Lebih baik lagi jika pria atau wanita tersebut adalah mahram. “Janganlah seorang lelaki berdua dengan seorang wanita,” Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “kecuali dengan mahram.” (HR. Bukhari) Hadits ini bersama hadits-hadits yang lain memberi makna bahwa kondisi khalwat dapat dihilangkan dengan kehadiran salah satu lawan jenis lain. Dengan demikian, hilanglah kondisi khalwat yang dapat menimbulkan fitnah. Tentu saja bila komunikasi atau berkumpulnya antara pria dan wanita tersebut dalam perkara-perkara yang mubah dan dengan tetap menjaga batasan-batasan syariat yang ada.
Jika dikaitkan dengan maqashid al-syari’ah (tujuan syariat) yang salah satunya adalah hifzh al-nasab (menjaga nasab/keturunan), tampak jelas relevansi dan hikmah tuntunan syariat untuk menghindari khalwat. Keinginan Islam untuk menciptakan jalinan masyarakat yang harmonis, bersih dari penyimpangan, dan berjalan di atas fitrah yang murni adalah sebagian hikmah di balik larangan khalwat ini. Wallahu ta’ala a’lam bi al-shawab.


Sociable

dragon ball z cartoon game

Best FREE Online Adventure Games

Gold Clock